Blog Post :

Friday, 23 December 2011

ODS : Jalan-jalan ke Gunungkidul

Hari ini aku mau cerita soal apa yang aku dapat di event ODS beberapa minggu yang lalu [maaf agak ketinggalan]. ODS itu apa sih? Oh iya aku lupa jelasin. ODS itu aku singkat dari "Outdoor Study". Outdoor Study ini kita diajak rekreasi (gak mesti sih) lalu dibagikan LKS atau dikasih tugas (Ini bagian yang kurang menyenangkan -_-). Nah, sekarang gak bingung lagi kan.
Tempat-tempat yang aku kunjungi ada dua, yaitu Hutan Wanagama yang bersejarah dan Pantai Krakal yang indah :) . Mulai dari yang pertama dulu yah..

  1. Hutan Wanagama.
Ada yang pernah ke Hutan Wanagama? Seru lho di sana. Sayang, di tempat ini hanya diberi waktu dua jam. Tapi selama dua jam itu, aku mendapatkan ilmu yang berguna dan beberapa gigitan nyamuk (--" maklum, nyamuknya belum tahu aturan, jadi main gigit).
  • Deskripsi 
Hutan Wanagama merupakan hutan yang luasnya sekitar 79.9 hektar. Luas banget kan? Padahal, dahulu hutan ini hanya seluas kira-kira 10 hektar. Selama lima tahun luas hutan ini semakin bertambah luas dan akhirnya seluas sekarang ini.
Soal lahannya, hutan yang seluas ini lahannya merupakan lapisan batuan lho (batu..!). Selain itu sebagian kecil tanahnya sedikit liat. Lapisan tanah dengan unsur hara-nya sangat tipis (katanya hanya sekitar 30 cm). Dahulu, diyakini Gunung Kidul itu adalah dasar laut yang terangkat ke atas. Struktur batu di sana, mungkin adalah bagian dari dasar laut.
Di sana, banyak pohon tinggi menjulang banyak ditemukan. Maklum, hutannya lumayan tua. Kapan-kapan ke sana ya... Seru lho, lihat-lihat sekalian membuat fresh mata kita. Lanjut—Di sana, di sini, temen-temen bisa lihat tumbuhan yang jarang dilihat. Di beberapa spot juga bisa ditemukan mata air yang mengalir. Kata mas guide-nya sih, waktu musim kemarau, mata air itu masih saja mengalir. Sedangkan pada musim hujan, mata airnya melimpah.
Mengapa? Jawabannya adalah mata air yang ada di sana, berasal dari air yang dikandung oleh batu kapur (karena di Gunung Kidul, batunya kebanyakan batu kapur) yang dapat menyimpan banyak air. Nih aku copy-kan dari website aqua, sekalian untuk nambah wawasan.
Menurut hasil penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi menyebutkan, perbukitan kapur pada umumnya mampu menyimpan air sebesarkurang lebih198 liter per m3.
 Hebat ya. Penambangan batu kapur secara berlebihan pastinya punya dampak buruk. Salah satunya mengurangi persediaan air tanah. Oh iya tambahan, air dari batu kapur—sayangnya—tidak bening (agak keruh).
  • Sejarah
Bersejarah. Itulah kesan yang aku dapat setelah mengunjungi hutan yang sangat luas tersebut. Dahulu, hutan ini disebut dengan nama Hutan Alam Campur (Kalau dirasa aneh, aku cuma ngikut lho). Hutan ini merupakan tempat yang strategis untuk berburu para raja maupun pangeran, pokoknya orang-orang kraton deh. Ini terjadi sekitar abad 18. Abad 19, hutan ini terbuka untuk masyarakat umum. Semua orang boleh mengunjunginya, seperti sekarang. Hal yang sedikit disayangkan, masyarakat sekitarsejak saat itugemar mengambil kayu bakar dari hutan tersebut.
Hal tersebut terus berlanjut [halah] sampai sebuah peristiwa yang masih kita pelajari sekarang. Apa itu? Peristiwa ini berlangsung mulai dari tahun 1942. Coba tebak, peristiwa apa. Jawabannya... Kedatangan bangsa Jepang ke Indonesia. Yap, pada masa ini, Jepun sedang masa perang dengan sekutu. Jepang melihat Hutan Wanagama sebagai sebuah potensi untuk usahanya memenangkan perang. Yaitu penanaman Pohon Jarak (Ricinus communis). Jepang membabat habis Hutan Wanagama—Huu...T.T Jahat ya—dan menanaminya dengan pohon jarak. Pohon Jarak ini digunakan jepang sebagai pelumas senjata dan kendaraan yang diambil dari bijinya. Bijinya mengandung asam ricinoleat—jenis asam lemak pada jarak.
 Ok, paham kan? Baca lanjutannya ya. Setelah dibabat habis dan ditanami Jarak oleh Jepang, ternyata, pohon jarak tidak dapat tumbuh dengan optimal di sini. Akhirnya, hutan ini akhirnya semakin lama semakin gundul. Dan menjadi gersang deh.
Hm... kasihan ya. Perasaan ini juga yang mendasari seorang profesor Universitas Gajah Mada melakukan penghijauan ditempat ini. Nama beliau yaitu Prof. Oemi Haniin Suseno. Beliau ini melakukan penghijauan ini dengan sebagian uangnya sendiri. Penghijauan ini dilakukan secara bertahap, karena untuk menghijaukan lahan gundul (apalagi di sini struktur lahannya batu—bukan tanah) tidak bisa langsung menanam pohon. Pertama-tama, beliau menanam pohon murbey sambil beternak ulat sutra. Usaha ini—alhamdulillah—sukses. Dan akhirnya menanam pohon perintis. Salah satunya Gliricidea sepium dan Akacia villosa. Akhirnya tumbuhlah pohon lainnya juga dan menjadi sangat lebat seperti saat ini.

[Sekian dulu... untuk Flora dan Fauna plus tempat yang satunya dilanjut kapan-kapan. Btw, temenku pengen aku menulis cerpen di sini. Gimana ya jadinya? Aku bahkan belum berpengalaman buat cerpen. -_-]

No comments:

Post a Comment

Silakan berkomentar...